Selasa, 19 Juni 2012

14+1 Diktum Fiksimini

Bila Anda berkeliaran di Twiterland, cobalah follow @fiksimini  
ini akun yang “dimoderatori” oleh saya dan dua sohib yang 
menyenangkan: Eka Kurniawan dan Clara Ng. Sejak saya mengintrodusir 
fiksimini, baru di Twiterland-lah respon yang menggairahkan terjadi. 
Sampai saat ini, mungkin udah ribuan fiksimini ditulis di sana. 
Cobalah cek hastag #fiksimini, 
maka akan terhampar pesona fiksimini. Beberapa fiksimini itu, akan 
saya kutip dan munculkan di sini. 
Oh ya, di Twiterland, atau di Twitter, saya memakai akun @agus_noor. 
Tak lupa, saya turunkan pula diktum-diktum fiksimini yang saya tulis.

14+1 Diktum Fiksimini
Oleh Agus Noor
Diktum Fiksimini 1: 
Menceritakan seluas mungkin dunia, 
dengan seminim mungkin kata
Diktum Fiksimini 2: 
Ibarat dalam tinju, 
fiksimini serupa satu pukulan yang telak dan menohok
Diktum Fiksimini 3: 
Kisahnya ibarat lubang kunci, 
yang justru membuat kita bisa “mengintip” dunia secara  berbeda
Diktum Fiksimini 4: 
Bila novel membangun dunia. 
Cerpen menata kepingan dunia. Fiksimini mengganggunya
Diktum Fiksimini 5 : 
Fiksimini yang kuat ibarat granat yang meledak dalam kepala kita
Diktum Fiksimini 6: 
Ia bisa berupa kisah sederhana, 
diceritakan dengan sederhana, 
tetapi selalu terasa ada yang tidak sederhana di dalamnya
Diktum Fiksimini 7: 
Alurnya seperti bayangan berkelebat, tetapi membuat kita terus teringat
Diktum Fiksimini 8: 
Serupa permata mungil yang membiaskan banyak cahaya, 
kita  terus terpesona setiapkali membacanya.
Diktum Fiksimini 9: 
Seperti sebuah ciuman, fiksimini jangan terlalu sering diulang-ulang
Diktum Fiksimini 10: 
Bila puisi mengolah bahasa, fiksimini menyuling cerita, menyuling dunia.
Diktum Fiksimini 11: 
Ia tak semata membuat tawa. 
Karna ia adalah gema tawanya.
Diktum Fiksimini 12: 
Kau kira fiksimini ialah kolam kecil, 
tapi kau tak pernah mampu menduga kedalamanya.
Diktum Fiksimini 13: 
Di ujung kisahnya: kita seperti mendapati teka-teki abadi yang tak bertepi.
Diktum Fiksimini 14: 
Pelan-pelan kau menyadari,
ia sebutir debu yang mampu meledakkan semesta.
Diktum Fiksimini terakhir: 
Lupakan semua diktum itu. Mulailah menulis fiksimini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar